Presiden Prabowo Subianto memperingatkan dunia akademik agar tidak memandang perkembangan kecerdasan buatan (AI) hanya sebagai kemajuan teknologi belaka. Dalam pidatonya pada Saresehan Kebangsaan KSTI 2026, ia menekankan bahwa perkembangan AI telah berubah menjadi perlombaan global yang mendapat perhatian hampir seluruh negara.

Prabowo juga mengingatkan bahwa sejumlah tokoh yang terlibat dalam pengembangan teknologi AI telah menyampaikan peringatan terkait dampak yang mungkin timbul. Karena itu, ia meminta kalangan akademisi untuk lebih serius mengantisipasi implikasi teknologi tersebut.
Pesan kepada dunia akademik
Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan perlunya pandangan yang lebih luas terhadap perkembangan AI. Ia mengingatkan bahwa melihat AI semata sebagai kemajuan teknologi tanpa menyimak konsekuensinya berisiko menempatkan masyarakat pada keadaan yang kurang siap menghadapi dampak sosial, ekonomi, dan teknologi yang mungkin muncul.
Permintaan agar akademisi mengambil peran antisipatif menjadi inti dari pesan yang disampaikan. Menurutnya, institusi pendidikan tinggi dan peneliti memiliki kapasitas untuk menganalisis perkembangan, memberikan penilaian kritis, serta menawarkan langkah-langkah mitigasi yang dapat membantu negara dan publik menghadapi perubahan cepat di bidang teknologi.
Perlombaan global pengembangan AI
Prabowo menyoroti bahwa pengembangan AI saat ini merupakan bagian dari persaingan internasional yang intens. Perhatian hampir seluruh negara terhadap kemajuan AI menunjukkan bahwa teknologi ini telah menjadi faktor strategis dalam berbagai bidang, sehingga kebijakan dan kajian keilmuan menjadi penting untuk mengelola dampak yang ditimbulkannya.
Baca juga: OpenAI tawarkan GPT-5.6 secara terhad kepada rakan kerjasama yang disahkan bersama kerajaan AS
Dengan menyebut perlombaan global, pidato tersebut menggarisbawahi adanya dinamika kompetisi dan tuntutan bagi kebijakan yang adaptif. Hal ini, menurut penyampaian Prabowo, menuntut kesiapan akademisi untuk ikut serta dalam perumusan norma, etika, dan langkah-langkah pengelolaan yang relevan.
Peringatan dari pelaku pengembangan teknologi
Prabowo mengutip adanya peringatan dari sejumlah tokoh yang terlibat langsung dalam pengembangan AI. Keberadaan suara-suara tersebut, kata Prabowo, menunjukkan bahwa kekhawatiran tentang potensi dampak AI bukanlah sekadar retorika, melainkan berasal dari pihak-pihak yang memahami teknologi secara mendalam.
Pernyataan itu dimaksudkan untuk menegaskan bahwa perhatian terhadap risiko AI harus dilandasi oleh kajian serius dan bukan semata kekhawatiran yang tidak berdasar. Menurutnya, masukan dari para pelaku pengembangan teknologi perlu menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan dan penelitian akademik.
Seruan antisipasi dan peran akademisi
Berangkat dari peringatan tersebut, Prabowo menyerukan agar akademisi mengambil langkah antisipatif. Ia menekankan perlunya keterlibatan aktif dunia pendidikan tinggi dalam memahami implikasi AI serta menyediakan analisis yang bisa menjadi dasar pengambilan keputusan publik.
Dalam konteks seruan itu, Prabowo menaruh harapan agar komunitas ilmiah, peneliti, dan pengajar dapat menjadi pengarah wacana yang kritis dan konstruktif. Peran akademisi diharapkan tidak hanya sekadar menghasilkan kajian, tetapi juga membantu membentuk kebijakan dan praktik yang mempertimbangkan berbagai aspek dampak teknologi.
Pidato Prabowo di Saresehan Kebangsaan KSTI 2026 ini menegaskan bahwa dialog antara pembuat kebijakan, akademisi, dan pelaku teknologi perlu terus diperkuat. Pesan utamanya adalah kewaspadaan dan kesiapan kolektif dalam menghadapi arus perubahan yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan.
