manajer kdmp - ilustrasi berita Pendekatan Semimiliter Dinilai Salah Sasaran bagi Manajer KDMP
Berita Terbaru

Pendekatan Semimiliter Dinilai Salah Sasaran bagi Manajer KDMP

0 0
Read Time:2 Minute, 17 Second

Program pelatihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi calon manajer KDMP menjadi sorotan setelah terjadi insiden yang menewaskan lima peserta selama masa pelatihan. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan tentang relevansi dan keselamatan pendekatan semimiliter untuk pembentukan manajer koperasi desa/kelurahan.

manajer kdmp - ilustrasi berita Pendekatan Semimiliter Dinilai Salah Sasaran bagi Manajer KDMP

Pelatihan yang dihadapkan pada kritik tajam itu berlangsung di Yogyakarta dan dirancang untuk calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Kasus kematian peserta mendorong perhatian publik terhadap metode, standar keselamatan, dan tujuan dari pelatihan jenis ini.

Relevansi pendekatan semimiliter bagi manajer KDMP

Imbas peristiwa terhadap pelatihan dan kepercayaan publik

Kematian lima peserta selama latsarmil berdampak langsung pada persepsi publik terhadap program tersebut. Kejadian fatal dalam kegiatan pembinaan yang bertujuan meningkatkan kapasitas manajer koperasi dapat menyebabkan kekhawatiran di kalangan calon peserta, keluarga, dan komunitas yang bergantung pada keberlanjutan program KDMP. Sorotan yang muncul menuntut kajian ulang mengenai metode pelatihan agar selaras dengan tujuan kelembagaan dan keselamatan peserta.

Persoalan keselamatan dan standar pelatihan

Peristiwa ini menyorot pentingnya standar keselamatan yang ketat dalam setiap bentuk pelatihan, termasuk yang bersifat fisik dan intensif. Evaluasi atas prosedur kesehatan, kesiapan peserta, pengawasan pelatih, serta ketersediaan fasilitas medis darurat merupakan bagian yang mesti mendapat perhatian. Kasus ini menggarisbawahi perlunya pemeriksaan menyeluruh terhadap bagaimana pelatihan disusun, siapa yang memenuhi syarat untuk mengikuti, serta bagaimana risiko dapat diminimalkan tanpa mengabaikan tujuan pembentukan kapasitas.

Peran tujuan pelatihan dalam menentukan metode

Insiden di Yogyakarta ini menjadi pengingat bahwa kesinambungan tujuan program dan metode pelatihan harus sejalan. Ketidaksesuaian antara tujuan pembinaan dan pendekatan yang diterapkan dapat menimbulkan risiko bagi peserta dan merusak tujuan awal program pembinaan.

Seiring dengan sorotan yang muncul, penting bagi pihak terkait untuk melakukan peninjauan menyeluruh terhadap pelaksanaan latsarmil bagi calon manajer KDMP. Peninjauan tersebut sebaiknya mencakup evaluasi kurikulum, kriteria kelayakan peserta, mekanisme pengawasan, serta protokol keselamatan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, publik menaruh perhatian pada perlunya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap upaya pembinaan yang melibatkan risiko fisik. Kasus ini membuka ruang diskusi lebih luas mengenai desain program pelatihan yang efektif, aman, dan relevan dengan kebutuhan nyata manajemen koperasi di tingkat desa atau kelurahan.

Penting pula untuk menimbang alternatif metode pembelajaran yang dapat mengembangkan kapasitas manajer tanpa menimbulkan risiko berlebih, seperti pelatihan berbasis simulasi, modul manajerial terapan, atau pendampingan intensif yang menitikberatkan pada praktik administrasi dan tata kelola.

Peristiwa yang menimpa peserta latsarmil di Yogyakarta menuntut perhatian serius dari semua pihak yang terlibat dalam penyusunan dan pelaksanaan program KDMP. Rekonstruksi program pelatihan yang mempertimbangkan keselamatan, relevansi tujuan, dan efektivitas pembelajaran menjadi langkah yang tak terelakkan agar tujuan penguatan koperasi di tingkat desa dan kelurahan dapat tercapai dengan aman.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Anda mungkin juga suka...