Harusnya Horror hadir sebagai komedi-horor yang tak sekadar mengejar tawa atau jump scare; film ini juga membawa inti emosional yang kuat. Debut penyutradaraan Reza ‘Arap’ Oktovian menutup perjalanan dengan adegan akhir yang membuat banyak penonton terharu, bahkan meneteskan air mata.

Selain menghadirkan absurditas dan humor, Harusnya Horror menyingkap sisi persahabatan, pengkhianatan, memaafkan, dan pengorbanan dalam balutan satir terhadap fenomena creator economy yang seringkali mengejar konten viral demi cuan. Film ini juga berstatus khusus sebagai karya terakhir almarhumah Lula Lahfah, sehingga menyisakan nuansa haru bagi pemeran, kru, dan penonton.
Harusnya Horror sebagai debut sutradara Reza ‘Arap’ Oktovian
Sebagai karya perdana di kursi sutradara, Reza ‘Arap’ Oktovian memilih pendekatan yang berani: menggabungkan komedi, horor, dan unsur melodrama. Reza menyatakan bahwa meski kemasannya absurd dan lucu, tujuan utama adalah menampilkan arti persahabatan dan pentingnya menghargai orang terdekat sebelum terlambat. Menurutnya, setiap detik bersama almarhumah Lula merupakan memori berharga, dan proses produksi Harusnya Horror menjadi momen penuh makna bagi dirinya dan seluruh anggota AAAClan.
Perpaduan genre ini membuat film terasa segar di lanskap perfilman komedi-horor Indonesia, sekaligus memberi ruang untuk refleksi atas realitas digital di mana segala momen bisa dijadikan konten. Pilihan Reza memberi kebebasan kreatif kepada para aktor juga menjadi sorotan, sehingga muncul nuansa organic dalam interaksi antar karakter.
Komedi-horor dengan hati: tema, nada, dan pesan
Harusnya Horror memakai humor dan absurditas sebagai lapisan permukaan untuk tema yang lebih berat. Di balik lelucon dan situasi konyol, film ini membangun emotional core yang mengangkat persahabatan, kehilangan, dan proses rekonsiliasi. Konflik antar karakter memuat elemen pengkhianatan dan pengorbanan yang pada akhirnya mengarah pada momen-momen penyembuhan dan penerimaan.
Salah satu aspek yang mendapat sorotan adalah penggambaran creator economy: karakter-karakter dalam film kerap mengejar momen viral demi keuntungan, sebuah satir yang mengingatkan penonton tentang konsekuensi ketika hidup dipentaskan untuk tontonan. Dengan cara ini, film tidak hanya menghibur tapi juga mengajak penonton merenungkan bagaimana hubungan personal bisa terdampak oleh tekanan konten dan popularitas.
Performa pemeran dan penghormatan untuk Lula Lahfah
Harusnya Horror menandai debut layar lebar bagi seluruh member AAAClan, antara lain George Tierson (Jot), Yukatheo Glen Widjaja (Yuka), Garry Andriawan Ang (Garry), Teguh Prakoso (Tepe), Aldy Renaldy (Aloy), Ariyanto (Ibot), Niko Junius (Niko), dan Bravyson (Vicong). George Tierson, yang memerankan Kevin, menyebut bahwa Reza memberi treatment berbeda dan kebebasan eksplorasi sehingga para aktor bisa menampilkan sisi yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Selain jajaran AAAClan, film ini juga didukung oleh Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, dan Malka Rafasya, dengan penampilan spesial dari Yoshua Marcellos (Cellos). Kehadiran Lula Lahfah dalam proyek ini memberi dimensi emosional tersendiri; banyak penonton merasakan momen penghormatan ketika menonton, mengingat ini adalah persembahan terakhir sang aktris.
Produksi, respons penonton, dan harapan distribusi
Diproduseri oleh Sridhar Jetty dan diproduksi oleh Ess Jay Pictures, Harusnya Horror juga melibatkan Jimmy L. Lalwani sebagai ko-produser dan David S Suwarto sebagai produser eksekutif. Tim produksi memberi perhatian pada proses pengembangan karakter dengan bantuan acting coach, sehingga chemistry antar pemain terasa natural di layar.
Respon awal terhadap film ini terbilang positif: tiket presale (ATS) dilaporkan ludes di sejumlah kota termasuk Jakarta, Depok, Bekasi, Bali, Banjarmasin, Batam, Bogor, Jambi, Lampung, Palembang, Pekanbaru, Makasar, Samarinda, dan Pontianak. Tren ini menunjukkan antusiasme tidak hanya dari fans AAAClan dan Marapthon, tetapi juga khalayak umum yang tertarik dengan kombinasi genre dan inti emosional cerita.
Produser Sridhar Jetty berharap film ini bisa menjadi refleksi situasi relevan di Indonesia, khususnya tentang bagaimana era digital mengubah cara orang berinteraksi dan memonetisasi hidup mereka. Ia mengungkapkan harapan agar penonton terhibur sekaligus merasakan kedekatan emosional yang dibangun sepanjang cerita.
Harusnya Horror dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Untuk informasi dan pembaruan, tim film menyediakan akun resmi di media sosial bagi penonton yang ingin mengikuti perkembangan seputar pemutaran dan kegiatan promosi.

